Read more: http://myhafiezers.blogspot.com/2011/10/membuat-salam-penutup-pada-blogger_29.html#ixzz23OWA4rQH

My Project School 2 - Beda Zaman, Beda Generasi, Beda pula Pemikirannya



         Remaja atau dalam bahasa inggris yaitu teenager, mungkin kita sudah tak asing lagi dengan kata – kata itu. Yah tentu saja, karena kita sendiri ini pun sedang mengalami yang namanya masa – masa remaja. Nah kalian sendiri tau gak masa remaja itu apa? Masa remaja adalah masa transisi (peralihan) manusia dari anak – anak menuju dewasa. Biasanya seorang remaja memasuki masa remajanya itu berkisar umur 12 tahun hingga 21 tahun. Nah biasanya masa remaja itu diawali dengan adanya perubahan fisik, seperti : pertambahan berat dan tinggi badan yang dramatis, perubahan bentuk tubuh, suara dan perkembangan karakteristik seksual seperti pembesaran buah dada pada wanita, perkembangan pinggang, jakun dan kumis pada pria, dan lain sebagainya. Selain itu adanya perubahan hormonal ketika kita sedang menuju proses beranjak dewasa. Kita menjadi lebih matang, lebih emosional, lebih moody dan lebih sensitif dari sebelumnya. Sehingga seseorang yang sedang mengalami masa remaja pastinya mereka akan mengalami semua hal itu.
            Mereka yang mengalami masa remaja mereka dianggap bukan lagi seorang anak – anak yang manja, cengeng, atau suka merengek kepada ayah bunda atau mami papinya. Mereka dianggap atau menganggap bahwa mereka sudah cukup dewasa, sudah cukup tau dan paham mana yang salah dan yang benar, sehingga terkadang orang tua tanpa berpikir panjang mereka membiarkan anak – anak mereka melakukan sesukanya. Sebagai contoh : kemana – mana sudah boleh bawa motor sendiri, sudah boleh pacaran, dan lain sebagainya. Padahal pada masa ini merupakan masa – masa kritis, masa dimana seorang remaja kelak akan menjadi pribadi yang baik atau pribadi yang buruk. Mengapa saya bisa beranggapan demikian? Hal itu dikarenakan adanya faktor – faktor yang mempengaruhi remaja tersebut, antara lain faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern yang mempengaruhi remaja yaitu pengaruh dari keluarganya sendiri. Dimana keluarga adalah bentuk masyarakat kecil yang sangat dekat dengan kita. Keluarga ada disekitar kita. Keluarga juga yang menemani tumbuh kembang kita dari awal kita dilahirkan ke muka bumi hingga kita tumbuh besar seperti sekarang ini. Kondisi lingkungan keluarga merupakan kondisi yang kondusif bagi sosialisasi anak. Itu artinya kehidupan sosial dan budaya seorang anak itu dimulai dari proses mendidik anak tersebut dari keluarganya sendiri, dengan kata lain disini peran keluarga sangat berpengaruh besar pada perkembangan dan pertumbuhan anak itu, bagaimana kelurga mendidiknya dengan baik atau tidak sehingga kelak ketika si anak sudah beranjak dewasa akan terlihat anak itu seperti apa. Selain itu yang kedua, adanya kebiasaan hidup yang dibiasakan oleh kedua orang tuanya. Apalagi seorang anak itu akan mencontoh ucapan, perilaku dan kebiasaan orang tuannya sendiri. Karena sebuah kebiasaan itu memang susah sekali untuk dihilangkan. Sebagai contoh : anak ini lahir dari golongan orang kaya dia dibiasakan hidup mewah, semua serba tercukupi, semua tinggal menyuruh pembantu, dan masih banyak lagi. Maka kelak diakan tetap seperti itu. Tetap menggantungkan hidupnya kepada harta orang tuanya, dia tidak bisa hidup mandiri sendiri, dia tidak bisa hidup tanpa harta. Yang ketiga, pengaruh agama dan kepercayaan yang dianut masing – masing individu. Setiap agama pasti mengajarkan hal – hal yang baik pada umatnya. Yang mana kita tau, didalam agama islam itu kita diajarkan untuk mencontoh sikap dan perilaku Nabi Muhammad SAW karena beliau merupakan suri tauladan yang baik bagi seluruh umat terutama umat islam. Sehingga sangat penting bagi keluarga menerapkan agama guna meningkatkan keimanan yang kuat pada anak – anak. Sedangkan, faktor ekstern yang mempengarui pola tingkah laku dan pola pikir remaja itu antara lain : pertama, pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh : jika seorang remaja tinggal di lingkungan kampung yang semua masyarakatnya berprofesi sebagai maling, pasti nanti ia juga akan menjadi maling. Tapi kalo lingkungan sekitarnya masyarakatnya orang yang baik – baik, insyallah ia juga akan menjadi orang yang baik pula. Yang kedua, pengaruh pergaulan. Jika seorang remaja bergaul dengan teman – teman yang alim, yang beriman, yang sholeh atau sholehah insyallah ia pun juga akan menjadi orang yang sholeh atau sholehah dan begitu juga sebaliknya. Dan yang ketiga, pengaruh dari yang namanya globalisasi. Globalisasi itu sendiri merupakan proses yang mendunia, dimana semua batas, semua ruang waktu, semua jarak antar wilayah, atau negara itu tidak ada. Semua bebas keluar masuk begitu saja, dari hal yang baik ataupun hal yang buruk. Semua itu karena adanya internet. Nah, dari sini pun bisa membawa dampak yang positif jika kita bisa memanfaatkannya dengan baik sebagai contoh : dalam bidang pendidikan sekarang ada internet kita bisa mencari suatu informasi dengan mudah dan cepat dari berbagai sumber di berbagai belahan bumi manapun, selain itu juga dalam bidang kesehatan, bidang sosial – budaya , bidang perekonomian, dan sebagainya. Tapi jika hal itu kita gunakan untuk tindakkan yang negatif tentu sangat berbahaya. Sebagai contoh : dari penggunaan jejaring sosial itu bisa terjadi tindak kriminalitas seperti penculikan yang marak terjadi saat ini, adanya pornografi yang tak pantas untuk moral anak negeri, dan masih banyak lagi dampak negatif yang dapat menurunkan moralitas remaja sekarang.
            Sekarang coba kalian tanyakan kepada kedua orang tua kalian atau kakek nenek atau buyut kalian, “apakah hal seperti ini dulu pernah ada? Pernah terjadi pada anak remaja?”. Pasti mereka menjawab, “Tidak”. Nah menurut kalian kenapa? “Karena dulu ya dulu sekarang ya sekarang”, bukan itu jawabannya. Tentu saja dulu tidak seperti sekarang ini. dulu tidak yang namanya teknologi secanggih zaman sekarang, seperti alat – alat transportasi, komunikasi dan lain – lain. Selain itu, zaman dulu budaya luar susah masuk ke Indonesia, sehingga masyarakat zaman dulu sangat menghargai budayanya sendiri, mereka selalu bangga dengan budayanya. Mereka juga memilki pola tingkah laku dan tutur kata yang sopan dan santun apalagi bila berbicara kepada orang yang lebih tua dari mereka. Selain itu mereka mempunyai rasa solidaritas yang sangat tinggi, jika ada yang kesusahan pasti langsung dibantu walau tidak saling kenal. Style fashion mereka gunakan juga sangat rapi dan sopan. Padahal zaman dulu yang namanya sekolah, itu cuma orang – orang terpandang, orang – orang darah biru saja yang bisa bersekolah. Tidak seperti sekarang, semakin banyaknya kemajuan – kemajuan zaman sekarang beserta kemudahan – kemudahannya membuat remaja zaman sekarang, terkadang terlena, suka semaunya sendiri, seenaknya saja, merasa cuek tak butuh sesama, “lo ya lo, gue ya gue”. Selain itu juga suka trek – trekkan motor, rambut gondrong, bayak main games lah atau kebanyakan fb-an lah twitteran lah sehingga mereka jadi lupa waktu, lupa makan lupa istirahat dan lupa belajar. Anak zaman sekarang juga lebih suka mengikuti gaya – gaya atau style yang kebarat – baratan, padahal mereka punya budaya sendiri yang lebih dari budaya bangsa lain.
            Perubahan yang terjadi dari zaman ke zaman seperti ini membuat perubahan pula pada pola tingkah laku dan pola pikir para generasi – generasi bangsa. Perubahan ini dapat terlihat jelas antara kehidupan di zaman dahulu dengan kehidupan di zaman sekarang. Mengapa tidak? Seperti yang saya bilang tadi, adanya pengaruh – pengaruh dari dalam maupun dari luar saat ini yang berdampak besar pada perilaku dan pemikiran remaja zaman sekarang. Perbedaan itu antara lain dimulai dari makanan, pekerjaan, gaya hidup, percintaan, permainan, teknologi, fashion, bahasa, sosialisasi, budaya dan masih banyak lagi yang lainnya. Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi. Saya pun sebagai remaja, saya juga ikut merasakan dampak dari perubahan itu.  Sehingga siapa yang patut disalahkan, orang tua atau anaknya? Tentu jawabannya adalah kedua – duanya. Mengapa? Memang zaman orang tua kita dengan zaman kita sendiri itu berbanding terbalik. Tapi, apakah zaman yang harus disalahkan? Tentu tidak. Seharusnya kita sebagai manusia bisa menyesuaikan diri kita dengan keadaan dan perubahan yang terjadi. Nah bagi para orang tua, seharusnya mereka bisa menyesuaikan dengan kemajuan zaman sekarang. Mereka kurang mencari tau banyak, karena cara pemikiran mereka yang masih tradisional. Sehingga banyak anak sekarang yang suka berbohong sama orang tuanya. Kalau ditanya, “nonton apa itu?”, kita jawab, “gak mak, gak nonton apa – apa. Ini lagi belajar”, “oh yaudah”, balas mereka. Nah kayak gitu kan merugikan si orang tua itu sendiri dan si anak tadi. Selain itu kurangnya perhatian, kasih sayang dari orang tuanya karena kesibukan pekerjaan atau mungkin mereka adalah keluarga broken home, sehingga si anak tersebut berusaha mencari kesenangan yang lain diluar sana. Nah kalau udah begini gimana?. Selain salah orang tuanya, itu juga salah si anak. Karena seharusnya mereka kan sekarang udah mulai dewasa, mereka setidaknya tau mana yang benar mana yang salah. Dan kalau seandainya ada hasutan yang buruk, seharusnya mereka bisa mencegah untuk tidak ikut terpengaruh. Tapi hal ini justru sebaliknya terjadi. anak remaja zaman sekarang mudah sekali terpengaruh dengan diiming – imingi kepuasan dan kesenangan yang padahal hanya sementara. Itu karena iman si anak itu kurang kuat, sehingga gampang sekali terjerumus kedalam hal – hal yang negatif.
            Nah, untuk mencegah, dan menghindari hal tersebut, saya ada saran untuk para orang tua dan para remaja zaman sekarang agar tidak muda terjerumus kedalam hal – hal yang negatif, antara lain :
1.      Lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. untuk meningkatkan iman dan taqwa kita.
2.      Untuk selalu menjaga keharmonisan di dalam rumah tangga, baik itu dari orang tua ataupun dari si anak.
3.      Bagi para orang tua, untuk selalu memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak walau sesibuk apapun itu, luang sedikit waktu untuk keluarga.
4.      Bagi para orang tua, untuk dapat beradaptasi di era globalisasi ini. Agar dapat mengawasi anak – anak dari hal – hal yang negatif, seperti: pornografi.
5.      Bagi si anak (remaja), untuk memilah – milah pergaulan agar tidak ikut terjerumus kedalam hal – hal yang negatif.
6.      Bagi si anak, untuk menggunakan kemajuan teknologi sekarang ini dengan bijak. Gunakan untuk hal – hal yang positif saja.
7.      Bagi si anak, untuk menjaga perilaku, ucapan, dan sikap. Serta untuk tidak mengikuti budaya – budaya yang dianggap tidak sesuai dengan nilai moral bangsa Indonesia.
8.      Untuk saling memahami dan mengerti satu sama lain, saling bertukar pendapat (curhat). Karena itu bisa mempererat rasa kasih sayang.
            Nah, dapat saya simpulkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak – anak menuju dewasa. Dimana masa ini adalah masa yang sangat rawan sehingga para orang tua harus mengawasi anak – anak mereka secara ketat karena di masa remaja ini semua hal yang baik dan buruk silih berganti datang dan keluar seiring dengan kemajuan teknologi di era globalisasi yang membawa dampak positif serta negatif  yang berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan moralitas anak bangsa.

0 komentar:

Posting Komentar